Islam sebagai sebuah agama samawi, menuntunkan kepada penganutnya berbagai bentuk aturan, tatacara dan batasan-batasan yang harus dan tidak harus dilakukan. Kalau menilik sekilas saja, tentu orang akan mengira bahwa islam terlalu mengatur, terlalu mengekang, tidak bebas, penuh dengan berbagai ancaman. Salah sedikit, dosa! terlalu diktator, tidak boleh di main-mainkan sedikitpun apa yang telah ditetapkan sebagai sebuah aturan!. Membebani dengan berbagai kewajiban-kewajiban yang tidak boleh dilanggar!
Benarkah begitu? mari kita berpikir jernih.
Jika aturan kita anggap sebagai sebuah pengekangan terhadap kebebasan, maka bukankah kita sesungguhnya juga senang mengatur dan diatur? Bukankah setiap hari di dalam kehidupan kita mengatur apa keinginan kita, apa yang hari ini harus kita lakukan, apa yang kita rencanakan dan bagaimana kita menrealisasikan tahap demi tahap rencana itu? Bukankah ini sekelumit contoh bahwa kita juga senang mengatur dan diatur?
Jika kewajiban itu kita pandang sebagai beban, bukankan setiap hari kita mewajibkan diri kita untuk mandi? Mewajibkan diri untuk mencari harta kekayaan sebanyak-banyaknya? Mewajibkan diri kita untuk sekolah, belajar, bekerja dan lain-lain. Apakah itu juga kita pandang sebagai beban yang memberatkan? Dan enggankah kita untuk melakukannya? Jawabnya ada pada kejujuran kita sendiri.
Bercermin dari uraian di atas, maka wajarkah jika Tuhan mengatur hamba-Nya agar ia mendapatkan segala kebaikan dalam hidupnya?. Sebagaimana kita juga mengatur anak-anak kita dan keluarga kita untuk mendapatkan kebaikan seperti yang kita inginkan. Sebagaimana kita juga mengatur rumah kita agar ia dipandang sesuai dengan fungsinya.
Disinilah salah satu kemudahan dalam belajar agama islam. Kita dibebankan sesuai dengan apa yang kita mampu. "Tuhan tidak membebani insan melebihi kemampuannya." Kemampuan manusia ada batasnya. Kesehatan, kepintaran, kekayaan, tenaga dan apa yang dimiliki manusia, tentu ada batasnya. Maka Allah SWT tidak membebankan manusia kecuali sesuai dengan kemampuannya.
Dan siapakah yang paling tahu tentang keterbatasan manusia? Tentu saja Sang Penciptanya. Sebagaimana seorang arsitek jalan, ia sedikit-banyak bisa mengukur keterbatasan daya tahan jalannya dalam memikul beban, maka dibuatlah kelas-kelas jalan sesuai dengan daya tahannya terhadap beban tersebut. Begitu juga pembuat robot, ia juga tentu paham batas kemampuan robotnya dalam melakukan sesuatu.
Maka di utuslah seorang Rasul Muhammad SAW dari jenis manusia, agar manusia bisa menjadikan tolak ukur bahwa syari'at yang dibebankan kepada mereka memang bukan hal yang mustahil, tetapi semuanya sudah di-standard-kan dengan kemampuan manusia. Sehingga manusia mudah untuk melaksakannya. Bayangkan jika Rasul yang di utus dari kalangan Jin atau Malaikat, tentu manusia akan sangat kesulitan dalam mencontohnya.
Kita ambil contoh saja tentang shalat. Apakah gerakannya tidak bisa dilakukan oleh manusia? Apakah bacaannya tidak bisa dihapalkan oleh manusia?. Dan masih banyak contoh yang lain dalam kemudahan islam.
Insya Allah kita akan sambung lain waktu...
selamat om lah....boleh juga blog nya
BalasHapusTrims, smoga sukses selalu untukmu...
BalasHapusom, punya Facebook kada?
BalasHapusnih facebook ulun www.facebook.com/okti.shanti